إنا لله وإنا إليه راجعون
____________________
بسم الله الرحمن الرحيم
“ولنبلونكم بشيء من الخوف والجوع ونقص من الأموال والأنفس والثمرات وبشر الصابرين * الذين إذا أصابتهم مصيبة قالوا إنا لله وإنا إليه راجعون * أولئك عليهم صلوات من ربهم ورحمة وأولئك هم المهتدون
Telah berpulang ke Rahmatullah Ta’ala Syaikh kita, Imam kita, Ayahanda kita Syaikh Abdullah bin Abdur Rahman Ibnu Jibrin pada jam 14.00, ba’da Zhuhur waktu setempat, hari Senin, Tanggal: 20 Rajab 1430 H (13 Juli 2009 M).
(Insya Allah Ta’ala) beliau akan dishalatkan pada hari selasa, tanggal: 21 Rajab 1430 H (14 Juli 2009 M) Zhuhur waktu setempat di Masjid Jami’ al-Imam Turki Bin Abdullah (Masjid Besar) di Kota Riyadh. Serta akan dimakamkan di pemakaman al-‘Aud.
Semoga Allah Ta’ala melimpahkan rahmat kepadanya, membalasnya dengan sebaik-baik balasan atas jasa dan kebaikan beliau kepada kaum muslimin, dan semoga Allah mengumpulkannya bersama para malaikat di dalam Surga Firdaus. Sesungguhnya Dia (Allah) Wali atas hal itu dan Dia Maha Kuasa atasnya.
وإنا لله وإنا إليه راجعون
Maktab Syaikh Abdullah al-Jibrin
Senin, 20 Rajab 1430 H (13 Juli 2009 M).
(http://ibn-jebreen.com/An)
Dari Ibnu Umar radhiallohu ‘anhuma beliau berkata: “Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah memegang kedua pundakku seraya bersabda, “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau musafir”. Ibnu Umar berkata: “Jika engkau berada di sore hari jangan menunggu datangnya pagi dan jika engkau berada pada waktu pagi hari jangan menunggu datangnya sore. Pergunakanlah masa sehatmu sebelum sakit dan masa hidupmu sebelum mati” (HR. Bukhori)
Menuntut ilmu agama tidak cukup bermodal semangat saja. Harus tahu pula rambu-rambu yang telah digariskan syariat. Tujuannya agar tidak bingung menghadapi seruan dari banyak kelompok dakwah. Dan yang paling penting, tidak terjatuh kepada pemahaman yang menyimpang!
Jadi makna kalimat ini secara ijmal (global) adalah, “Tidak ada sesembahan yang hak selain Allah”. Khabar “Laa ” harus ditaqdirkan “bi haqqi” (yang hak), tidak boleh ditaqdirkan dengan “maujud ” (ada). Karena ini menyalahi kenyataan yang ada, sebab tuhan yang disembah selain Allah banyak sekali. Hal itu akan berarti bahwa menyembah tuhan-tuhan tersebut adalah ibadah pula untuk Allah. Ini Tentu kebatilan yang nyata.