June 2007


Onno W. Purbo, Pasti anda tahu orang yang satu ini. Dia merupakan salah satu pakar teknologi informasi Indonesia yang dikenal sebagai pelopor VoiP Rakyat dan RT/RW Net.

Mantan pegawai negeri dan dosen ITB itu telah menerima penghargaan nasional atau internasional sebanyak 9 kali. Merupakan lulusan terbaik teknik elektro ITB th 1987 dengan Judul tugas akhir “Perancangan dan implementasi rangkaian RS232C 8 kanal dan program untuk praktikum”. Menerima gelar Ph.D dari University of Waterloo, Kanada dengan Judul thesis “Studies on Polysilicon Emitter Transistors made on Zone-Melting-Recrystallized Silicon-on-Insulator” di bawah bimbingan Prof. DR. C.R. Selvakumar.

Dia aktif menulis buku dengan topik sekitar teknologi Internet, Open Source, Linux, Keamanan Jaringan, Wireless Internet, Internet Telepon (VoIP). Juga Aktif pada lebih dari 170 Mailing List di Internet. Moderator lebih dari 8 mailing list, termasuk di Jasakom-perjuangan @ yahoogroups.com, indowli@yahoogroups.com, indowli@groups.or.id, majalahneotek@ yahoogroups.com. Menerima rata-rata 1000 e-mail setiap hari.

Hebatnya, ilmu yang melambungkan namanya dipelajari secara otodidak, karena background pendidikan S1-S2-S3 adalah elektronika, lebih tepatnya lagi IC/VLSI design. Makanya beliau lebih sering membagi ilmunya ya… tentang teknologi informasi itu.

Pengen belajar dari Pak Onno? Sambangi link berikut, beliau tidak pelit kok dengan ilmunya :

Wanita mana yang mau dimadu? Demikian ungkapan yang sering kita dengar. Memang, pada umumnya, sebagian kita tidak ingin, tidak siap, dan tidak mau untuk berbagi suami. Tidak untuk dimadu maupun menjadi madu. Sebagian kita, atau kebanyakan kita, sangat takut jika suami yang sangat kita sayangi dan cintai menikah lagi. Ketakutan ini semakin bertambah ketika kita mendengar, membaca, apalagi menyaksikan sendiri kisah-kisah nestapa dari keluarga yang menjalankan “poligami tidak sehat”.

Motivasi menikah lagi

Banyak faktor yang mendorong seorang suami untuk menikah lagi. Diantara faktor tersebut adalah: istri sakit, hasrat seksual yang tinggi, istri mandul, atau karena alasan-alasan khusus misalnya banyaknya jumlah wanita, sedikitnya jumlah laki-laki, menolong wanita yang sudah tua, janda, banyak anak, ataupun alasan politik demi kemaslahatan umat.

Tidak menutup kemungkinan pula, seorang suami mempunyai keinginan untuk menikah lagi karena kepribadian sang istri yang kurang (baca: tidak) berkenan di hati sang suami. Motif yang terakhir ini tidak dapat disalahkan, seorang laki-laki mencari pendamping hidup untuk memperoleh rasa nyaman, bahagia, sakinah, mawadah, dah rahmah. Namun, yang didapatkan sang suami dalam kesehariannya bertolak belakang dari keinginannya. Ia senantiasa mendapatkan ucapan dan perbuatan yang selalu menjengkelkan dan menyakitkan hatinya. Jika ini terjadi berulang kali,dan karakter buruk istri sulit diperbaiki, tidak menutup kemungkinan, sang suami mulai berpikir menikahi wanita lain untuk mendapatkan apa yang diimpikan sebelumnya. Ia akan mencari wanita yang dianggapnya lebih baik, lebih shalih, lebih bisa membuat dia bahagia dan tenang seperti yang dia idam-idamkan.

Suami tidak setia?

Keputusan menikah lagi adalah keputusan yang besar sekali. Pilihan yang sangat berat. Pilihan ini tidak menunjukkan bahwa ia bukanlah tipe seorang suami yang setia. Justru karena kasih sayang dan cintanya yang begitu besar kepada istri dan anak-anaknya, ia lebih memilih untuk memadu istrinya ketimbang bercerai. Andaikata ia bukan tipe seorang suami yang setia, sayang dan cinta kepada istri dan anak-anak, tentunya ia tidak akan peduli dengan nasib mereka. Ia tidak akan memikirkan perasaan dan masa depan yang akan dialami oleh istri dan anak-anak nya pasca perceraian. Sebagaimana kita tahu, perceraian membawa konsekuensi yang sangat besar bagi kehidupan sang istri dan anak-anak nya.

Antisipasi agar tidak dimadu suami

Sebagian kita ada yang menolak dengan keras jika mengetahui kehendak suami untuk menikah lagi. Bahkan ada yang mengancam dan memberikan pilihan kepada suami: “pilih aku atau dia”. Tak jarang pula, ada yang minta diceraikan ketimbang harus berbagi suami.

Ada pula yang mengantisipasi dengan membatasi ruang gerak suami. Sang istri menerapkan pengawasan melekat terhadap suami, setiap saat dia menghubungi sang suami. Seorang istri bertindak seolah menjadi manajer suami, ia menentukan kegiatan mana aja yang bisa diikuti oleh suami, ia juga menentukan kapan suami bisa meninggalkan rumah, kapan suami harus pulang, Semua dengan keinginan sepihak dari istri dengan ketentuan yang ketat.

Bahkan, tidak menutup kemungkinan, sang istri mengantisipasinya dengan menggalang dukungan untuk menolak keinginan sang suami, atau bahkan melakukan terror kepada calon istri kedua.

Sebenarnya bukanlah hal yang salah jika seorang wanita berupaya dan melakukan antisipasi, agar sang suami tidak menikah lagi. Yang jadi masalah jika antisipasi yang dilakukan sang istri sampai melanggar batas aturan Allah Azza wa Jalla. Apalagi jika muncul rasa benci kepada syariat Allah dan pelakunya. Ia membenci bahkan menentang syariat yang diturunkan Allah subhanahu wa ta’ala dan telah dipraktikkan oleh rasul dan sebagian sahabat.

Raih simpati agar disayang suami

Sebagaimana yang disebutkan diatas, ada kalanya seorang suami ingin menikah lagi dikarenakan kepribadian dan karakter yang kurang berkenan dari sang istri. Oleh karena itu, tidak salah jika para wanita mengantisipasi kemungkinan yang tidak diinginkan ini. Salah satunya dengan berusaha maksimal untuk senantiasa meraih simpati agar senantiasa disayang suami .
Salah satu kiat nya dengan menjauhi kesalahan-kesalahan yang biasa dilakukan seorang istri.

Diantara kesalahan-kesalahan yang terkadang dilakukan seorang istri sebagai berikut:

1. Menuntut keluarga yang ideal dan sempurna

Sebelum menikah, seorang wanita membayangkan pernikahan yang begitu indah, kehidupan yang sangat romantis sebagaimana ia baca dalam novel maupun ia saksikan dalam sinetron-sinetron. Ia memiliki gambaran yang sangat ideal dari sebuah pernikahan. Kelelahan yang sangat, cape, masalah keuangan, dan segudang problematika di dalam sebuah keluarga luput dari gambaran nya. Ia hanya membayangkan yang indah-indah dan enak-enak dalam sebuah perkawinan. Akhirnya, ketika ia harus menghadapi semua itu, ia tidak siap. Ia kurang bisa menerima keadaan, hal ini terjadi berlarut-larut, ia selalu saja menuntut suaminya agar keluarga yang mereka bina sesuai dengan gambaran ideal yang senantiasa ia impikan sejak muda. Seorang wanita yang hendak menikah, alangkah baiknya jika ia melihat lembaga perkawinan dengan pemahaman yang utuh, tidak sepotong-potong, romantika keluarga beserta problematika yang ada di dalamnya.

2. Nusyus (tidak taat kepada suami)

Nusyus adalah sikap membangkang, tidak patuh dan tidak taat kepada suami. Wanita yang melakukan nusyus adalah wanita yang melawan suami, melanggar perintahnya, tidak taat kepadanya, dan tidak ridha pada kedudukan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah tetapkan untuknya.

Nusyus memiliki beberapa bentuk, diantaranya adalah:

1. Menolak ajakan suami ketika mengajaknya ke tempat tidur, dengan terang-terangan maupun secara samar.

2. Mengkhianati suami, misalnya dengan menjalin hubungan gelap dengan pria lain.

3. Memasukkan seseorang yang tidak disenangi suami ke dalam rumah

4. Lalai dalam melayani suami

5. Mubazir dan menghambur-hamburkan uang pada yang bukan tempatnya

6. Menyakiti suami dengan tutur kata yang buruk, mencela, dan mengejeknya

7. Keluar rumah tanpa izin suami

8. Menyebarkan dan mencela rahasia-rahasia suami.

Seorang istri shalihah akan senantiasa menempatkan ketaatan kepada suami di atas segala-galanya. Tentu saja bukan ketaatan dalam kedurhakaan kepada Allah, karena tidak ada ketaatan dalam maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia akan taat kapan pun, dalam situasi apapun, senang maupun susah, lapang maupun sempit, suka ataupun duka. Ketaatan istri seperti ini sangat besar pengaruhnya dalam menumbuhkan cinta dan memelihara kesetiaan suami.

3. Tidak menyukai keluarga suami

Terkadang seorang istri menginginkan agar seluruh perhatian dan kasih sayang sang suami hanya tercurah pada dirinya. Tak boleh sedikit pun waktu dan perhatian diberikan kepada selainnya. Termasuk juga kepada orang tua suami. Padahal, di satu sisi, suami harus berbakti dan memuliakan orang tuanya, terlebih ibunya.

Salah satu bentuknya adalah cemburu terhadap ibu mertuanya. Ia menganggap ibu mertua sebagai pesaing utama dalam mendapatkan cinta, perhatian, dan kasih sayang suami. Terkadang, sebagian istri berani menghina dan melecehkan orang tua suami, bahkan ia tak jarang berusaha merayu suami untuk berbuat durhaka kepada orang tuanya. Terkadang istri sengaja mencari-cari kesalahan dan kelemahan orang tua dan keluarga suami, atau membesar-besarkan suatu masalah, bahkan tak segan untuk memfitnah keluarga suami.

Ada juga seorang istri yang menuntut suaminya agar lebih menyukai keluarga istri, ia berusaha menjauhkan suami dari keluarganya dengan berbagai cara.

Ikatan pernikahan bukan hanya menyatukan dua insan dalam sebuah lembaga pernikahan, namun juga ‘pernikahan antar keluarga’. Kedua orang tua suami adalah orang tua istri, keluarga suami adalah keluarga istri, demikian sebaliknya. Menjalin hubungan baik dengan keluarga suami merupakan salah satu keharmonisan keluarga. Suami akan merasa tenang dan bahagia jika istrinya mampu memposisikan dirinya dalam kelurga suami. Hal ini akan menambah cinta dan kasih sayang suami.

4. Tidak menjaga penampilan

Terkadang, seorang istri berhias, berdandan, dan mengenakan pakaian yang indah hanya ketika ia keluar rumah, ketika hendak bepergian, menghadiri undangan, ke kantor, mengunjungi saudara maupun teman-temannya, pergi ke tempat perbelanjaan, atau ketika ada acara lainnya di luar rumah. Keadaan ini sungguh berbalik ketika ia di depan suaminya. Ia tidak peduli dengan tubuhnya yang kotor, cukup hanya mengenakan pakaian seadanya: terkadang kotor, lusuh, dan berbau, rambutnya kusut masai, ia juga hanya mencukupkan dengan aroma dapur yang menyengat.

Jika keadaan ini terus menerus dipelihara oleh istri, jangan heran jika suami tidak betah di rumah, ia lebih suka menghabiskan waktunya di luar ketimbang di rumah. Semestinya, berhiasnya dia lebih ditujukan kepada suami Janganlah keindahan yang telah dianugerahkan oleh Allah diberikan kepada orang lain, padahal suami nya di rumah lebih berhak untuk itu.

5. Kurang berterima kasih

Tidak jarang, seorang suami tidak mampu memenuhi keinginan sang istri. Apa yang diberikan suami jauh dari apa yang ia harapkan. Ia tidak puas dengan apa yang diberikan suami, meskipun suaminya sudah berusaha secara maksimal untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan keinginan-keinginan istrinya.

Istri kurang bahkan tidak memiliki rasa terima kasih kepada suaminya. Ia tidak bersyukur atas karunia Allah yang diberikan kepadanya lewat suaminya. Ia senantiasa merasa sempit dan kekurangan. Sifat qona’ah dan ridho terhadap apa yang diberikan Allah kepadanya sangat jauh dari dirinya.

Seorang istri yang shalihah tentunya mampu memahami keterbatasan kemampuan suami. Ia tidak akan membebani suami dengan sesuatu yang tidak mampu dilakukan suami. Ia akan berterima kasih dan mensyukuri apa yang telah diberikan suami. Ia bersyukur atas nikmat yang dikaruniakan Allah kepadanya, dengan bersyukur, insya Allah, nikmat Allah akan bertambah.

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.”

6. Mengingkari kebaikan suami

“Wanita merupakan mayoritas penduduk neraka.”

Demikian disampaikan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam setelah shalat gerhana ketika terjadi gerhana matahari.

Ajaib !! wanita sangat dimuliakan di mata Islam, bahkan seorang ibu memperoleh hak untuk dihormati tiga kali lebih besar ketimbang ayah. Sosok yang dimuliakan, namun malah menjadi penghuni mayoritas neraka. Bagaimana ini terjadi?

“Karena kekufuran mereka,” jawab Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika para sabahat bertanya mengapa hal itu bisa terjadi.

Apakah mereka mengingkari Allah?

Bukan, mereka tidak mengingkari Allah, tapi mereka mengingkari suami dan kebaikan-kebaikan yang telah diperbuat suaminya. Andaikata seorang suami berbuat kebaikan sepanjang masa, kemudian seorang istri melihat sesuatu yang tidak disenanginya dari seorang suami, maka si istri akan mengatakan bahwa ia tidak melihat kebaikan sedikitpun dari suaminya. Demikian penjelasan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari (5197).

Mengingkari suami dan kebaikan-kebaikan yang telah dilakukan suami!!

Inilah penyebab banyaknya kaum wanita berada di dalam neraka. Mari kita lihat diri setiap kita kita saling introspeksi apa dan bagaimana yang telah kita lakukan kepada suami-suami kita?

Jika kita terbebas dari yang demikian, alhamdulillah. Itulah yang kita harapkan. Berita gembira untukmu wahai saudariku.

Namun jika tidak, kita (sering) mengingkari suami, mengingkari kebaikan-kebaikannya maka berhati-hatilah dengan apa yang telah disinyalir oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Bertobat satu-satunya pilihan utuk terhindar dari pedihnya siksa neraka. Selama matahari belum terbit dari barat, atau nafas telah ada di kerongkongan masih ada waktu untuk bertobat. Tapi mengapa mesti nanti? Mengapa mesti menunggu sakaratul maut?

Janganlah engkau katakan besok dan besok wahai saudariku; kejarlah ajalmu bukankah engkau tidak tahu kapan engkau akan menemui Robb mu?

“Tidaklah seorang isteri yang menyakiti suaminya di dunia, melainkan isterinya (di akhirat kelak): bidadari yang menjadi pasangan suaminya (berkata): “Jangan engkau menyakitinya, kelak kamu dimurkai Allah, seorang suami begimu hanyalah seorang tamu yang bisa segera berpisah dengan kamu menuju kami.” (HR. At Tirmidzi, hasan)

Wahai saudariku, mari kita lihat apa yang telah kita lakukan selama ini jangan pernah bosan dan henti untuk introspeksi diri jangan sampai apa yang kita lakukan tanpa kita sadari membawa kita kepada neraka, yang kedahsyatannya tentu sudah Engkau ketahui.

Jika suatu saat, muncul sesuatu yang tidak kita sukai dari suami; janganlah kita mengingkari dan melupakan semua kebaikan yang telah suami kita lakukan.

“Maka lihatlah kedudukanmu di sisinya. Sesungguhnya suamimu adalah surga dan nerakamu.” (HR.Ahmad)

7. Mengungkit-ungkit kebaikan

Setiap orang tentunya memiliki kebaikan, tak terkecuali seorang istri. Yang jadi masalah adalah jika seorang istri menyebut kebaikan-kebaikannya di depan suami dalam rangka mengungkit-ungkit kebaikannya semata.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima).” [Al Baqarah: 264]

Abu Dzar radhiyallahu ‘Anhu meriwayatkan, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Ada tiga kelompok manusia dimana Allah tidak akan berbicara dan tak akan memandang mereka pada hari kiamat. Dia tidak mensucikan mereka dan untuk mereka adzab yang pedih.”

Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakannya sebanyak tiga kali.” Lalu Abu Dzar bertanya, “Siapakah mereka yang rugi itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang yang menjulurkan kain sarungnya ke bawah mata kaki (isbal), orang yang suka mengungkit-ungkit kebaikannya dan orang yang suka bersumpah palsu ketika menjual. ” [HR. Muslim]

8. Sibuk di luar rumah

Seorang istri terkadang memiliki banyak kesibukan di luar rumah. Kesibukan ini tidak ada salahnya, asalkan mendapat izin suami dan tidak sampai mengabaikan tugas dan tanggung jawabnya.

Jangan sampai aktivitas tersebut melalaikan tanggung jawab nya sebagai seorang istri. Jangan sampai amanah yang sudah dipikulnya terabaikan.

Ketika suami pulang dari mencari nafkah, ia mendapati rumah belum beres, cucian masih menumpuk, hidangan belum siap, anak-anak belum mandi, dan lain sebagainya. Jika ini terjadi terus menerus, bisa jadi suami tidak betah di rumah, ia lebih suka menghabiskan waktunya di luar atau di kantor.

9. Cemburu buta

Cemburu merupakan tabiat wanita, ia merupakan suatu ekspresi cinta. Dalam batas-batas tertentu, dapat dikatakan wajar bila seorang istri merasa cemburu dan memendam rasa curiga kepada suami yang jarang berada di rumah. Namun jika rasa cemburu ini berlebihan, melampaui batas, tidak mendasar, dan hanya berasal dari praduga; maka rasa cemburu ini dapat berubah menjadi cemburu yang tercela.

Cemburu yang disyariatkan adalah cemburunya istri terhadap suami karena kemaksiatan yang dilakukannya, misalnya: berzina, mengurangi hak-hak nya, menzhaliminya, atau lebih mendahulukan istri lain ketimbang dirinya. Jika terdapat tanda-tanda yang membenarkan hal ini, maka ini adalah cemburu yang terpuji. Jika hanya dugaan belaka tanpa fakta dan bukti, maka ini adalah cemburu yang tercela.

Jika kecurigaan istri berlebihan, tidak berdasar pada fakta dan bukti, cemburu buta, hal ini tentunya akan mengundang kekesalan dan kejengkelan suami. Ia tidak akan pernah merasa nyaman ketika ada di rumah. Bahkan, tidak menutup kemungkinan, kejengkelannya akan dilampiaskan dengan cara melakukan apa yang disangkakan istri kepada dirinya.

10. Kurang menjaga perasaan suami

Kepekaan suami maupun istri terhadap perasaan pasangannya sangat diperlukan untuk menghindari terjadinya konflik, kesalahpahaman, dan ketersinggungan. Seorang istri hendaknya senantiasa berhati-hati dalam setiap ucapan dan perbuatannya agar tidak menyakiti perasaan suami, ia mampu menjaga lisannya dari kebiasaan mencaci, berkata keras, dan mengkritik dengan cara memojokkan. Istri selalu berusaha untuk menampakkan wajah yang ramah, menyenangkan, tidak bermuka masam, dan menyejukkan ketika dipandang suaminya.

Demikian beberapa kesalahan-kesalahan istri yang sering dilakukan oleh suami yang seyogyanya kita hindari agar suami semakin sayang pada setiap istri. Sehingga kemungkinan istri dimadu suami karena alasan kepribadian dan tabiat istri yang kurang menyenangkan semakin kecil.

Semoga bermanfaat.


Ditulis oleh : Sutikno

Mulwo 11 (180307)

Bacaan:

1.Agar Istri disayang Suami Muhammad bin Ibrahim Al Hamd

2.Agar Suami disayang Istri Muhammad bin Ibrahim Al Hamd

3.Agar Suami tak Berpoligami Abu Azzam Abdillah

4.Istriku Menikahkanku As-Sayid bin Abdul Aziz As Sa’dani

5.Karena Istri Ingin Dimengerti Alifah Pujihastuti

6.Lelaki yang Menangis, kisah nyata lelaki korban kekerasan rumah tangga – Rini Nurul

7.Nikmatnya Sunnah Poligami Ihsan bin Muhmmad bin Ayisy Al Utaibi

8.Poligami, Anugerah yang Terzhalimi Abu Umar Basyir

9.Wanita antara Jodoh, Poligami & Perselingkuhan Hartono Ahmad Jaiz


Sumber : Jilbab Online
Blog khusus poligami : Dibawah Payung Aisyah

Malam ini -meski tidak selarut biasanya, saya masih terhitung lambat tiba di rumah. sehingga menemukan anak saya sudah lelap dibuai mimpi.

‘Mungkin dia kelelahan, tadi sore main kebut-kebutan sepeda dengan teman-temannya’, jelas Umi.

Maka selepas mandi, sembari memisah lelah saya memilih duduk di teras depan berteman secangkir kopi panas dan mengobrol dengan Umi. Seselesainya, saya berencana meneruskan sisa pekerjaan dari kantor.

Pada seruputan yang kesekian, saya mengeluhkan betapa melelahkannya hari-hari belakangan ini. Mendengarnya, Umi hanya tersenyum tanpa menanggapi sejenak,dia berucap, ‘Menurut Abi, berapa berat segelas kopi yang sedang Abi pegang itu?’, tanyanya.
Saya menggeleng, tetapi menjawab,’tidak sampai seperempat kilo barangkali’. ‘kenapa?’, sambung saya keheranan.
‘Kira-kira kalau Abi angkatpegang selama satu menit, Abi bakalan lelah tidak?, jawabnya. Saya menggeleng.
‘Kalau satu jam?’, sambungnya.
‘Pasti tangan Abi jadi sakit’, jawab saya.
‘Kalau seharian penuh, kira-kira sanggup tidak?’, tambahnya.
dan saya menggelengkan kepala sebagai jawaban.

‘Barangkali seperti itulah beban. secangkir kopi yang sebenarnya berberat sama, semakin lama kita angkatpegang, makin terasa pula beratnya’.
‘Bayangkan jika kita membawanya terus menerus, lambat laun kita tidak akan mampu membawanya lagi. sebab beban itu serasa meningkat beratnya’.
‘Apa yang sebaiknya kita lakukan adalah meletakkan gelas tersebut, istirahat sejenak sebelum mengangkatnya lagi’.
‘Sekaliwaktu kita harus meninggalkan beban kita secara berkala, agar kita dapat lebih segar dan mampu membawanya lagi’.
‘Jadi sebelum pulang ke rumah, tinggalkan saja beban pekerjaan. Jangan bawa pulang. akan lebih baik bila kita istirahat dan bersenang-senang’.
‘Bukankah beban itu dapat diambil lagi besok?’.

Menyelesaikan kalimat terakhirnya, Umi beringsut permisi hendak tidur. Sementara saya menekur, dan rasanya ucapan panjang Umi memang ada benarnya. Maka saya mengurung niat menerusrampungkan sisa pekerjaan.
Semoga esok pagi menjadi segar karenanya.

Anonymous

Sewaktu pesta barbeque, seorang teman terjatuh – dia meyakinkan semua orang yang datang kalau dia tidak apa-apa dan katanya hanya tersandung batu bata karena sepatu barunya (padahal mereka menawarkan memanggil paramedik).

Mereka membantunya membersihkan diri dan mengambilkan piring makanan baru. Meskipun terlihat sedikit terguncang, Ingrid meneruskan menikmati sore itu.

Malamnya, suami Ingrid menelpon memberitahukan semua orang bahwa istrinya telah dibawa ke rumah sakit – (pukul 6 sore besoknya, Ingrid meninggal).

Dia mendapat serangan stroke pada pesta barbeque. Kalau saja mereka tahu bagaimana mengenali tanda-tanda stroke mungkin Ingrid masih bersama kita hari ini.

Hanya membutuhkan satu menit untuk membaca ini.

Seorang ahli syaraf mengatakan bahwa kalau dia bisa menolong seorang korban stroke dalam waktu 3 jam sejak serangan tersebut, dia bisa membalikkan pengaruh stroke…. secara total! Dia mengatakan bahwa triknya adalah mengenali dan mendiagnosa stroke dalam waktu 3 jam sejak serangan, yang sebenarnya merupakan hal yang sulit.

MENGENALI STROKE

Puji syukur kepada yang Maha Pencipta atas indera yang dapat mengingat TIGA hal berikut.

Baca dan pelajarilah!

Kadang-kadang gejala stroke sulit dikenali. Sayangnya,kurangnya kewaspadaan dapat mendatangkan bencana. Korban stroke dapat menderita kerusakan otak sewaktu orang-orang yang ada disekitarnya pada saat kejadian, gagal mengenali gejala-gejala stroke.

Sekarang banyak dokter mengatakan bahwa orang di sekitar korban dapat mengenali gejala stroke dengan menanyakan tiga pertanyaan sederhana ini:

1. Minta orang tersebut untuk TERSENYUM.
2. Minta orang tersebut untuk MENGANGKAT KEDUA TANGANNYA.
3. Minta orang tersebut untuk MENGUCAPKAN SEBUAH KALIMAT SEDERHANA
(yang masuk akal), contoh: “Hari ini cerah.” Blablabla… .

Bila orang tersebut tidak bisa melakukan apa yang kita minta diatas atau salah satunya segera bawa ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan pertama.

Sumber : Milis

Oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab

—————————————————————————

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata : “jika anda telah mengerti apa yang telah aku katakan dengan pengertian yang meresap ke dalam hati,. Telah mengerti arti syirik yang telah dinyatakan oileh Allah Subhanahu Wa Ta`ala dalam firman-Nya (yang artinya) :

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni dosa selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar (An-Nisa’: 48)

Telah mengerti pula din (agama) Allah yang dibawa oleh para rasul dari rasul yang paling pertama hingga rasul terakhir, dan telah mengerti pula kebodohan yang dialami oleh kebanyakan orang tentang ini, maka semua pengertian anda itu akan memberi dua faidah kepada anda:

Pertama: Kegembiraan karena mendapat karunia serta Allah sebagaimana firman-Nya (yang artinya):

Katakanlah: “Dengan karunia Allah dan rahmad-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmad-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. (Yunus: 58).

Kedua: Rasa takut yang besar sebab apabila anda telah memahami bahwa seseorang bisa menjadi kafir disebabkan sebuah kalimat yang keluar dari mulutnya, sedangkan ia mengucapkannya karena kebodohannya, padahal kalimat kufur tersebut tidak termaafkan sebab kejahilannya itu, atau terkadang seseorang mengucapkan kata-kata kufur sedangkan ia menyangka bahwa perkataannya itu merupakan perkataan yang dapat mendekatkan dirinya kepada Allah seperti yang dilakukan oleh orang-orang musyrik. Apalagi jika anda telah memahami berdasarkan petunjuk Allah -kisah tentang (kebodohan) kaumnya Musa `alaihis salam yang berkata kepada beliau seraya berkata- padahal mereka adalah orang-orang shalih dan berilmu- :

“Buatkanlah untuk kami sebuah sesembahan (berhala) sebagaimana sesembahan-sesembahan (berhala) yang mereka miliki” (Al-A`raaf: 138)

pada saat ini (ketika anda telah memahami semua ini –pen), maka rasa takut anda akan menjadi sangat besar dan semangat anda untuk membersihkan diri dari hal-hal semacam di atas pun menjadi besar pula.

Maksudnya apabila anda telah memahami semua perkataan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab di atas, anda telah memahami makna kalimat “la ilaha illallahu” dengan sebenar-benarnya dan anda telah mengerti kebodohan banyak orang terhadap kalimat tersebut, baik kebodohan yang bersifat sederhana maupun kebodohan yang keterlaluan. Maka pemahaman anda itu akan memberi anda dua faidah besar buat anda:

Pertama: Kegembiraan karena anda mendapat karunia Allah. Hal ini karena dua sisi nikmat sebagai berikut:

1. Bahwa Allah telah membukakan dan menganugrahkan pemahaman kepada anda hingga anda dapat memahami makna yang benar dari `la ilaha illallahu’

2. Bahwa anda telah terselamatkan dari kesesatan kebanyakan orang disebabkan kesalahan mereka dalam memahami kalimat tersebut.

Kegembiraan semacam ini yang termasuk diperintahkan Allah dalam firman-Nya (yang artinya:) Katakanlah: “Dengan karunia Allah dan rahmad-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmad-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. (Yunus: 58).

Sementara itu kegembiraan seseorang karena mendapat nikmat Allah adalah ibadah, dan kegembiraan ini termasuk hal yang terpuji seperti yang diterangkan dalam sebuah hadits (yang artinya) :

Orang-orang yang berpuasa memiliki dua kegembiraan, satu kegembiraan di saat berbuka, dan satu kegembiraan lagi disaat bertemu dengan Rabbnya (dikeluarkan oleh Bukhari: 4/144- Fathul Bari dan Muslim : 8/278)

Rasa takut yang amat besar apabila anda sampai jatuh ke dalam kekufuran kaum musyrikin. Sebab seseorang terkadang mengucapkan kata-kata kufur, padahal kekufuran tersebut tidak termaafkan hanya karena ketidak mengertiannya bahwa itu kufur. Maka jadilah ia orang yang kafir karena kata-kata yang diucapkannya itu sebagaimana telah diterangkan dalam sebuah hadits (yang artinya) “Sesunggunhnya seseorang berkata dengan suatu kalimat berupa kebencuan terhadap Allah, ia menganggap perkataannya itu tidak mengapa, tetapi dengannya ia terhempas ke dalam neraka (jauhnya) begini dan begini (dalam riwayat lain: (jauhnya/dalamnya) sejauh timur dan barat)(dikeluarkan oleh Al-Bukhari dalam Fathul bari: 11/314, dan Muslim hadits no. 17/117 dan lain-lain)

Kita memohon kepada Allah agar kita menjadi orang-orang yang selamat.

Selanjutnya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mengingatkan agar hendaknya seorang muslim merasa takut bila dirinya memiliki persangkaan seperti yang dilakukan oleh kaum musyrikin berkenaan dengan makna tauhid; yaitu bahwa tauhid dipahami sebagai: “Hanya Allah-lah satu-satunya Pencipta, Pemberi rizki dan Pengatur”. Oleh karena itu beliau mengingatkan agar hendaknya manusia terus-menerus takut, kemudian disusul dengan selalu mengingat kisahnya kaum nabi Musa `alaihis salam ketika mereka berkata kepada Musa (yang artinya) “Buatkanlah untuk kami sebuah sesembahan (berhala) sebagaimana sesembahan-sesembahan (berhala) yang mereka miliki” (Al-A’raaf: 138)

Musa menjawab (yang artinya):

“Sesungguhnya kalian ini orang-orang yang bodoh”

” sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan kepercayaan yang dianutnya dan akan batal apa yang mereka kerjakan” (Al-A’raaf: 139)

Jadi dalam ayat diatas, Musa menjelaskan bahwa permintaan kaumnya agar Musa membuatkan berhala sebagaimana kaum musyrikin mempunyai berhala-berhala merupakan suatu kebodohan. Maka kalau peristiwa itu diingat, niscaya akan menimbulkan rasa takut di hati seseorang apabila dirinya sampai terjatuh ke dalam kesesatan serta kejahilan karena berprasangka bahwa makna `la illaha illallahu’ adalah “tidak ada Pemberi rizki, Pencipta dan pengatur kecuali Allah.

Itulah dia yang dingatkan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan yang banyak dialami oleh orang-orang ahlul kalam, yaitu orang-orang yang banyak bicara berdasarkan logika tentang Tauhid Rububiyah. Mereka beranggapan bahwa `la illaha illallahu adalah “ tiadaPencipta dan tidak ada Yang Maha Kuasa untuk mencipta kecuali Allah”

Meraka menafsiri kalimat yang agung ini dengan pebafsiran yang salah dan batil, penafsiran yang tidak perbah dikenal seorangpun di kalangan kaum muslimin, bahkan orang-orang musyrik arab dahulunya tidak dikenal penafsiran ini, bahkan orang-orang musyrik Arab dahulu jeuh lebih memahami kaliamt “la illaha illallahu” dibandingkan dengan orang-orang ahlu ilmu kalam.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah selanjutnya berkata: “Ketahilah bahwa dengan hikmah-Nya, Allah subhanahu wata’ala tidak mengutus seorang nabipun untuk membawa tauhid ini, melainkan Dia ciptakan musuh-musuh yang menentang nabi-Nya tersebut, sebagaimana firman Allah (yang artinya):

Dan demikian kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan(dari jenis) Jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manus ia) . Jikalau Rabb-mu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan (al-An’am: 122)

Dan tidak jarang musuh-musuh nabi Allah itu memiliki banyak ilmu, banyak kitab dan banyak hujjah, seperti yang dinyatakan oleh Allah dalam firman-Nya (yang artinya):

Maka tatkala datang kepada mereka rasul-rasul ( yang diutus kepada) mereka dengan membawa keterangan-keterangan, mereka merasa senang dengan pengetahuan yang ada pada mereka….(al-Mu’min:83)

Disini Rahimahullah mengingatkan adanya satu pelajaran besar, yakni satu diantara hikmah Allah Ta’ala yaitu bahwa setiap kali Dia mengutus nabi-Nya, maka Dia ciptakan pula musuh-musuh penentangnya yang terdiri dari manusia dan jin.

Adanya musuh ini berguna untuk menyaring dan memperjelas kebenaran, sebab setiap kali ada penentang, maka hujjah (bukti kebenaran ) nabi pun akan semakin kuat. Sebaliknya, apabila nabi diutus demikian saja tanpa penentang, akhirnya kebenaran (al haq) yang menjadi misinya tidak akan menjadi jelas, justru dengan adanya penentang itulah akan tejadi penentangan yang bakal mempertegas dan memperjelas al-haq.

Rintangan yang ditetapkan oleh Alah untuk para nabi-Nya ini juga ditetapkan bagi para pengikut mereka. Setiap para pengikut nabi pasti akan menghadapi penentang atau musuh-musuh seperti apa yang pernah dihadapi oleh para nabi, sebagaimana dinyatakan oleh Allah dalam surat al-An’am ayat 112 diatas.

Juga firman Allah (yang artinya)

Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari orang yang berdosa. Dan cukuplah Rabbmu menjsadi pemberi petunjuk dan penolong

Renungkanlah firman Allah pada ayat diatas yang artinya berbunyi:

“Cukuplah Rabb-mu menjadi pemberi petunjk dan penolong”

Kalau ayat diatas diperhatikan, orang-orang yang berdosa (penjahat) yang memusuhi para nabi itu, melakukan permusuhannya kepada para rasul melalui dua jalan;

1. Peragu-raguan (tasykik)

2. Permusuhan.

Adapun yang berkenaan dengan jalur tasykik (peragu-raguan), maka untuk mengatasinya Allah Ta’ala telah berfirman yang artinya:

“Cukuplah Rabb-mu menjadi pemberi petunjuk dan penolong “

Jadi Allah Ta’ala pasti senantiasa memberi petunjuk kepada para rasul dan para pengikut-pengikutnya, dan pasti senantiasa memberi pertolongan kepeda mereka untuk mengalahkan musuh-musuhnya sekalipun musuh itu merupakan musuh yang paling kuat.

Disamping itu yang paling penting untuk diketahui ialah, bahwa seringkali musuh-musuh para rasul itu memiliki ilmu yang banyak, hingga dengan imunya mampu menjadikan kebenaran dan kebatilan kabur di mata manusia. Seperti yang dijelaskan dalam firman Allah (Q.S al-Mu’min:83) (yang artinya) :

Maka tatkala datang kepada mereka rasul-rasul (yang diutus kepada) mmereka dengan membawa keterangan-keterangan, mereka merasa senang dengan pengetahuan yang ada pada mereka dan mereka dikepung oleh adzab Allah yangb selalu mereka perolok-olokkan itu.

Kegembiraan (kebanggaan)yang termaktub dalam ayat ini jelas tercela, sebab ia merupakan kegembiraan yang tidak diridhai oleh Allah. Yang jelas berdasarkan ayat ini, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab ingin menunjukkan agar seyogyanya setiap muslim mengetahui bahwa banyak diantara musuh Allah yang memiliki ilmu. Dengan pengetahuan ini, seorang muslim hendaknya bersiap diri menggalang bekal untuk menghadapi mereka.

Begitu pula petunjuk yang diberikan rasul shallallahu `alaihi wa sallam ketika beliau mengutus Mu’adz ke Yaman. Beliau bersabda (yang artinya) :

Sesungguhnya kamu akan datang kepada suatu kaum dari kalangan ahli kitab (Bukhari 7/661 dan Muslim : no. 19).

Artinya: Nabi menginginkan agar Mu’adz bersiap-siap menghadapi mereka yang tentunya banyak memiliki hujah, karena mereka adalah ahlul kitab.

Selanjutnya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mengatakan: “bila anda telah mengerti semua itu dan telah memahami bahwa jalan menuju Allah itu pasti dihadang oleh musuh yang ahli bicara, ahli ilmu dan pandai berhujjah, maka kewajiban anda ialah mempelajari dinullah (secara baik) supaya nanti bisa menjadi senjata yang akan anda gunakan untuk memerangi para syaitan yang dedengkotnya dahulu pernah berkata kepada Allah (berisi ancaman bagi hambanya pen.) yaitu (yang artinya):

Iblis menjawab karena engkau telah menghukum saya tersebut, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka dari kanan dan kiri mereka. Dan engkau tidak akan mendapati mereka bersyukur(taat) (al-A’raf: 16-17).

Tetapi manakala anda telah menghadapkan muka wajah anda kepada Allah, dan telah mendengarkan hujjah-hujjah dan penjelasan Allah maka anda tak perlu lagi merasa takut dan sedih, (sebab) Allah Ta’ala telah berfirman (yang artinya):

Sesungguhnya tipu daya syaitan adalah lemah. (An-Nisa’: 76)

Yakni apabila anda telah memahami bahwa musuh-musuh Allah tersebut mempunyai banyak kitab dan ilmu pengetahuan yang dengannya bisa digunakan untuk merancukan antara hak dan batil maka anda harus bersiap sedia menghadapi mereka dengan dua hal :

Pertama: seperti diisyaratkan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, anda harus memiliki hujjah syar’iyyah dan aqliyah agar bisa melibas hujjah serta kebatilan mereka.

Kedua: Anda harus mengenal kebatilan mereka, supaya anda dapat mengalahkan mereka.

Selanjutnya, seorang muslim tidak perlu takut menghadapi hujjah-hujjah mereka (para musuh tauhid), karena hujjah mereka adalah batil dan itu merupakan tipu daya setan,sedangkan tipu daya setan itu lemah.

Selanjutnya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab menegaskan bahwa seorang awam dari kalangan orang yang bertauhid akan mampu mengalahkan seribu ulama musyrikin itu,dasarnya adalah firman Allah Ta’ala (yang artinya):.

”Dan sesungguhnya tentara Kami,betul-betul pasti menang. (Ash-Shaffat : 173).

Yang dimaksudkan dengan satu orang awam dari kalangan orang-orang bertauhid adalah orang yang mengikrarkan tauhid dengan segenap macamnya yang tiga, yaitu tauhid Rububiyah Asma’ was-sifat serta Uluhiyah.(Orang awam menurut pandangan kaum tarekat sufiyah adalah orang yang seperti disebutkan oleh syaikh Muhammad bin Abdul Wahab ini, yaitu orang yang mengikrarkan tiga Tauhid :Uluhiyah, Rububiyah dan asma’ was-sifat. Sebab menurut mereka: tauhid terbagi menjadi tiga peringkat diantaranya (peringkat yang paling rendah): tauhidnya orang-orang awam, yaitu tauhidnya orang yang mengikrarkan tauhid Rububiyah, Uluhiyah dan Asma’ Was-Sifat [1]

Orang awam yang bertauhid ini pasti akan mampu mengalahkan seribu ulama musyrikin, sebab ulama musyrikin tersebut tidak sempurna dalam mentauhidkan Allah, mereka hanya mentauhidkan Rububiyah Allah saja.

Mengimati tauhid rububiyah semata jelas tidak benar, bahkan pada hakekatnya itu bukanlah tauhid yang sebenarnya. Buktinya Nabi Shalallahu `Alaihi Wa Sallam telah telah memerangi musyrikin yang secara rububiyah telah mentauhidkan Allah, namun tauhid semacam ini tidak berguna dan tidak menyebabkan darah serta harta mereka terpelihara

Dengan demikian satu orang awam dari kalangan awam dari kalangan orang yang bertauhid masih lebih baik dari mereka. Karena itulah Allah Ta’ala berfirman (yang artimya) :

“Dan sesungguhnya tentara kami betul-betul akan menang”(Ash-Shaffat: 173)

(Jadi orang awam yang bertauhid itu masih merupakan tentara Allah -pen), Tentara Allah ini menang berdasarkan hujjah serta penjelasannya sebagaimana ia juga menang dengan pedang serta anak panahnya. Tentara Allah berjihad fi sabilillah dengan dua cara:

Pertama: Dengan hujjah dan penjelasan; hal ini dilancarkan katika menghadapi kaum munafiqin, orang-orang yang menyembunyikan permusuhan kepada kaum muslimin.

Kedua: berjihad dengan pedang dan anak panah. Ini dilancarkan kepada orang-orang kafir yang secara terang-terangan menyatakan kekufuran dan permusuhannya.

Dua bentuk jihad ini sesuai denga firman Allah (yang artinya):

Maka mereka merasakan akibat yang buruk akibat perbuatannya, dan akibat perbuatan mereka kerugian yang besar. (Ath-Thalaq: 9)

Terkadang jihad dengan hujjah dan penjelasan juga dilakukan kepad kaum kuffar yang terang-terangan menyatakan kekafirannya, sebab orang-orang kafir terseb ut tidak diperangi dengan pedang sebelum tegak alasan untuk itu (belum ada hujjah untuk itu atas mereka).

Jundullah (tentara Allah) adalah hamba-hamba Allah yang membela Allah dan rasul-Nya. Akhirnya Syaikh rahimahullah mengingatkan bahwa yang dikhawatirkan adalah apabila ada seorang yang bertauhid tetapi ia tidak memiliki kesiapan senjata (hujjah), hingga dikhawatirkan ia akan kalah manakala menghadapi hujjah lawan sehingga menimbulkan fitnah.

Oleh karena itula seyogyanya setiap muslim yang bertauhid senantiasa siap sedia mempersenjatai dirinya dengan ilmu agamanya yang mapan. Wallahu `alamu bish-shawab.

[1] Lihat catatan kaki Ta’liqat `Ala Kitab Kasyfusy Syubhat, hal: 27.

Disadur dari At-Ta’liqot `Ala Kitab Kasyfisy-Sybhat Li Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, ta’liq syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, hal: 20-28.

أحاديث مشهورة ضعيفة السند
Hadis-hadis Populer yang sanadnya dha’if
Oleh: Ihsan al-‘Utaibi

اْلأَذَانُ وَاْلإِقَامَةُ فِي أُذُنِ الْمَوْلُوْدِ
“Adzan dan iqamah di telinga anak yang baru lahir”.
Hadis ini dla’if sekali. Bayan al-Wahm, Ibnu al-Qaththan, 4:594; al-Majruhin, Ibnu Hibban, 2:128; adl-Dla’ifah, 1:494

اطْلُبُوا الْعِلْمَ وَلَوْ بِالصِّيْنِ فَاِنَّ طَلَبَ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Carilah ilmu meskipun sampai di negeri Cina, karena sesungguhnya mencari ilmu adalah kewajiban atas setiap orang muslim”.
Hadis ini palsu. Al-Maudlu’at, Ibnu al-Jauzi, 1:215; Tartib al-Maudlu’at, adz-Dzahabi, 111; al-Fawaid al-Majmu’ah, 852; Kasyful Khafa’, al-Ajluni, 1:139.

اعْمَلْ لِدُنْيَاكَ كَأَنَّكَ تَعِيْشُ أَبَداً، وَاعْمَلْ لآخِرَتِكَ كَأَنَّكَ تَمُوْتُ غَداً
“Beramallah untuk duniamu seolah-olah kau akan hidup selamanya, dan berbuatlah untuk akhiratmu seolah-olah kau akan mati besok”.
al-Albani mengatakan; Tidak benar kalau hadis ini marfu’, maksudnya tidak benar kalau hadis ini berasa dari Nabi saw. adl-Dla’ifah:8

إِنَّ لِكُلِّ شَيْءٍ قَلْباً، وَإِنَّ قَلْبَ الْقُرْآنِ يس مَنْ قَرَأَهَا فَكَأَنَّمَا قَرَأ الْقُرْآنِ عَشْرَ مَرَّاتٍ
“Sesungguhnya segala sesuatu memiliki hati, dan sesung-guhnya hatinya Al-Qur’an adalah surat Yasin, barang siapa membaca surat Yasin, maka seolah-olah ia telah membaca Alqur’an 10 kali”.
Hadis ini maudlu’. Al-Ilal Ibnu Abi Hatim, 2:55; adl-Dla’ifah, 169.

أَحِبُّوْا الْعَرَبَ لِثَلاَثٍ لأَنِّيْ عَرَبِيٌّ وَالْقُرْآنُ عَرَبِيٌّ وَكَلاَمُ أَهْلِ الْجَنَّةِ عَرَبِيٌّ
“Cintailah Arab karena tiga hal, karena saya orang Arab, al-Qur’an berbahasa Arab, dan bahasa penduduk sorga (di sorga) adalah bahasa Arab”.
Hadis ini Maudlu’ (palsu). Tadzkiratu al-Maudlu’at, 112; al-Maqashid al-Hasanah, 31; Tanzih asy-Syari’ah, 2:30; Kasyf al-Khafa’, 1:54

أَوْصَانِي جِبْرَائِيْلُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ بِالْجَارِ إِلَى أَرْبَعِيْنَ دَارًا عَشْرَةٌ مِنْ هَا هُنَا، وَعَشْرَةٌ مِنْ هَا هُنَا ، وَعَشْرَةٌ مِنْ هَا هُنَا ، وَعَشْرَةٌ مِنْ هَا هُنَا
“Jibril mewasiatkan kepadaku bahwa tetangga itu sampai 40 rumah, 10 dari arah sana, 10 dari arah sana, 10 dari arah sana, dan 10 dari arah sana”.
Hadis ini dla’if. Kasyful Khafa’, 1:1054; Takhrij al-Ihya’, 2:232; al-Maqashid al-Hasanah, as-Sakhawi, 170.

إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدِ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ
“Hati-hatilah kalian terhadap iri (hasad), karena iri itu akan dapat memakan kebaikan seperti api memakan (membakar) kayu”.
Hadis dla’if. At-Tarikh al-Kabir, 1:272; Mukhtashar Sunan Abi Dawud, al-Mundziri,7:226

اْلاِيْمَانُ عُرْيَانٌ فَلِبَاسُهُ التَقْوَى وَزِيْنَتُهُ الْحَيَاءُ وَثَمْرَتُهُ الْعِلْمُ
“Iman itu telanjang, pakaiannya adalah taqwa, perhiasan-nya adalah malu dan buahnya adalah ilmu.”
Hadis ini palsu, Kasyf al-Khafa’, 27.

اْلإِيْمَانُ يَزِيْدُ وَيَنْقُصُ
“Iman itu bisa bertambah dan berkurang”.
Bukan hadis Rasululah, tetapi kata-kata yang disepakati (ijma’) oleh ulama’ salaf. al-Manar al-Munif, 119; Kasyf al-Khafa’, 25; Mizan al-I’tidal, 6:304.

حُبُّ الْوَطَنِ مِنَ اْلإِيْمَانِ
“Cinta tanah air sebagian dari iman”
Hadis ini tidak ada asalnya, adl-Dla’ifah, 36; Kasyf al-Khafa’, 1102; al-Mashnu’, Ali al-Qari, 1:91.

رَجَعْناَ مِنَ الْجِهَادِ اْلأَصْغَرِ إِلَى الْجِهَادِ اْلأَكْبَرِ قَالُوْا وَمَا الْجِهَادُ اْلأَكْبَرُ قَالَ جِهَادُ الْقَلْبِ
“Kami pulang dari jihad ashghar (jihad kecil) menuju jihad akbar (jihad besar). Para sahabat bertanya, apakah jihad akbar itu. Rasul saw bersabda; Jihad hati”.
Hadis ini tidak ada asalnya, al-Asrar al-Marfu’ah, 211; Tadzkiratu al-Maudlu’at, al-Futni, 191, Kasyf al-Khafa’, 1:511.

السُّلْطَانُ ظِلُّ اللهِ فِي أَرْضِهِ ، مَنْ نَصَحَهُ هُدِيَ ، وَمَنْ غَشَّهُ ضَلَّ
“Penguasa adalah bayang-bayang Allah di bumi-Nya, barangsiapa yang setia kepada penguasa maka ia telah mendapatkan petunjuk dan barangsiapa mengkhianati-nya maka ia telah sesat”.
Maudlu’ (palsu). Tadzkiratu al-Maudlu’at, al-Futni, 182; al-Fawaid al-Majmu’ah, asy-Syaukani, 623; adl-Dla’ifah, 475.

سَيِّدُ الْقَوْمِ خَادِمُهُمْ
“Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka”.
Hadis ini dla’if. Al-Maqashid al-Hasanah, as-Sakhawi, 579; adl-Dla’ifah,1502.

لَوْلاَكَ مَا خَلَقْتُ الدُّنْيَا
“Kalau bukan karena kamu (Nabi Muhammad saw) niscaya idak aku ciptakan dunia”.
Hadis maudlu’. Al-Lu’lu’ al-Marshu’, al-Musyaisyi, 454; Tartib al-Maudlu’at, 196; adl-Dla’ifah, 282.

مَا خَابَ مَنِ اسْتَخَارَ ، وَلاَ نَدِمَ مَنِ اسْتَشَارَ وَلاَ عَالَ مَنِ اقْتَصَدَ
“Tidak akan sia-sia orang yang beristikharah, tidak akan kecewa orang yang bermusyawarah, dan tidak akan sengsara orang yang berhemat”.
Hadis ini maudlu’ (palsu). Al-Kasyf al-Ilahi, 1:775; adl-Dla’ifah, 611.

مَنْ حَجَّ الْبَيْتَ وَلَمْ يَزُرْنِي فَقَدْ جَفَانِي
“Barangsiapa berhaji di Baitullah ttapi tidak menziarahi makamku maka ia telah menjauh dariku”.
Hadis ini Maudlu’ sebagaimana disebutkan oleh adz-Dzahabi di dalam kitab Tartib al-Maudlu’at, 600; ash-Shaghani menyebutkan di dalam al-Maudlu’at, 52; asy-Syaukani menyebutkan di dalam al-Fawa’id al-Majmu’ah, 326.

مَنْ حَجَّ، فَزَارَ قَبْرِيْ بَعْدَ مَوْتِي، كَانَ كَمَنْ زَارَنِي فِي حَيَاتِي
“Barangsiapa yang berhaji lalu menziarahi kuburku setelah kematianku maka ia seperti orang yang mengunjungiku di masa hidupku”.
Ibnu Taimiyah mengatakan, hadis ini dla’if, Qa’idah Jalilah, 57; Al-Albani menyatakan Maudlu’, adl-Dla’ifah, 47. Lihat pula Dzakhirat al-Huffadz, Ibnu Al-Qaisrani, 4:5250.

مَنْ صَلَّى فِي مَسْجِدِيْ أَرْبَعِيْنَ صَلاَةً لاَ يَفُوْتُهُ صَلاَةٌ كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ وَنَجَاةٌ مِنَ الْعَذَابِ، وَبَرِئٌ مِنَ النِّفَاقِ
“Barangsiapa shalat di masjidku empat puluh waktu shalat tanpa ketinggalan satu waktu shalat pun maka ditetapkan baginya terbebas dari neraka dan selamat dari adzab, dan trlepas dari kemunafikan”.
Hadis dla’if, adl-Da’ifah, 364.

مَنْ وَلَدَ لَهُ مَوْلُوْدٌ فَأَذِنَ فِي أُذُنِهِ الْيُمْنَى وَأَقَامَ فِي أُذُنِهِ الْيُسْرَى لَمْ تَضُرُّهُ أُمُّ الصِّبْيَانِ
“Barangsiapa yang mendapatkan seorang anak, kemudian ia adzankan di telinga kanan dan iqamah di telinga kiri, maka kelak anak itu tidak akan diganggu oleh jin”.
Hadis Maudlu’. Al-Mizan, adz-Dzahabi, 4:397; Majma’ az-Zawa’id, al-Haitsami. Takhrij al-Ihya’, 2:61.

النَّاسُ كُلُّهُمْ مَوْتَى إِلاَّ الْعَالِمُوْنَ، وَالْعَالِمُوْنَ كُلُّهُمْ هَلَكَى إِلاَّ الْعَامِلُوْنَ، وَالْعَامِلُوْنَ كُلُّهُمْ غَرَقَى إِلاَّ الْمُخْلِصُوْنَ، وَالْمُخْلِصُوْنَ عَلَى خَطْرٍ عَظِيْمٍ
“Manusia semuanya adalah mayat, kecuali orang yang berilmu, dan orang-orang yang berilmu semuanya binasa kecuali orang yang beramal, orang-orang yang beramal semuanya tenggelam kecuali orang yang ikhlas. Dan orang yang ikhlas berada di atas kedudukan yang agung”.
Ash-Shaghani berkata, ini adalah hadis yang diada-adakan lagi pula tidak sesuai dengan aturan kebahasaan. Yang benar secara bahasa adalah dengan menggunakan kata al-‘Alimina, al-‘Amilina dan Mukhlishin. Al-Maudlu’at, 200; Asy-Syaukani menyebutkan di dalam al-Fawa’id al-Majmu’ah, 771; al-Futni menyebutkan dalam Tadzkirat al-Maudlu’at, 200.

Source : el Qolam

Along time ago, there was an Emperor who told his horseman that if he could ride on his horse and cover as much land area as he likes, then the Emperor would give him the area of land he has covered.

Sure enough, the horseman quickly jumped onto his horse and rode as fast as possible to cover as much land area as he could. He kept on riding and riding, whipping the horse to go as fast as possible. When he was hungry or tired, he did not stop because he wanted to cover as much area as possible.

Came to a point when he had covered a substantial area and he was exhausted and was dying.
Then he asked himself, “Why did I push myself so hard to cover so much land area? Now I am dying and I only need a very small area to bury myself.”
—————————-
The above story is similar with the journey of our Life. We push very hard every day to make more money, to gain power and recognition. We neglect our health, time with our family and to appreciate the surrounding beauty and the hobbies we love.

One day when we look back, we will realize that we don’t really need that much, but then we cannot turn back time for what we have missed.

Life is not about making money, acquiring power or recognition. Life is definitely not about work! Work is only necessary to keep us living so as to enjoy the beauty and pleasures of life.

Life is a balance of Work, Family and Personal time. You have to decide how you want to balance your Life. Define your priorities, realize what you are able to compromise but always let some of your decisions be based on your instincts. Happiness is the meaning and the purpose of Life, the whole aim of human existence.

So, take it easy, do what you want to do and appreciate nature. Life is fragile, Life is short. Do not take Life for granted. Live a balanced lifestyle and enjoy Life!

Watch your thoughts, they become words.
Watch your words, they become actions.
Watch your actions, they become habits.
Watch your habits, they become character.
Watch your character, it becomes your destiny.

Next Page »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.