December 2007


Oleh : Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin

Segala puji bagi Allah semata, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, Nabi kita Muhammad, kepada keluarga dan segenap sahabatnya.

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Rahimahullah, dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Artinya : Tidak ada hari dimana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu : Sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Mereka bertanya : Ya Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah ?. Beliau menjawab : Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun”.

Imam Ahmad, Rahimahullah, meriwayatkan dari Umar Radhiyallahu ‘Anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Artinya : Tidak ada hari yang paling agung dan amat dicintai Allah untuk berbuat kebajikan di dalamnya daripada sepuluh hari (Dzulhijjah) ini. Maka perbanyaklah pada saat itu tahlil, takbir dan tahmid”.

MACAM-MACAM AMALAN YANG DISYARIATKAN

[1]. Melaksanakan Ibadah Haji Dan Umrah

Amal ini adalah amal yang paling utama, berdasarkan berbagai hadits shahih yang menunjukkan keutamaannya, antara lain : sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Artinya : Dari umrah ke umrah adalah tebusan (dosa-dosa yang dikerjakan) di antara keduanya, dan haji yang mabrur balasannya tiada lain adalah Surga”.

[2]. Berpuasa Selama Hari-Hari Tersebut, Atau Pada Sebagiannya, Terutama Pada Hari Arafah.

Tidak disangsikan lagi bahwa puasa adalah jenis amalan yang paling utama, dan yang dipilih Allah untuk diri-Nya. Disebutkan dalam hadist Qudsi :

“Artinya : Puasa ini adalah untuk-Ku, dan Aku lah yang akan membalasnya. Sungguh dia telah meninggalkan syahwat, makanan dan minumannya semata-mata karena Aku”.

Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri, Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Artinya : Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari di jalan Allah melainkan Allah pasti menjauhkan dirinya dengan puasanya itu dari api neraka selama tujuh puluh tahun”. [Hadits Muttafaq 'Alaih].

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Qatadah Rahimahullah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Artinya : Berpuasa pada hari Arafah karena mengharap pahala dari Allah melebur dosa-dosa setahun sebelum dan sesudahnya”.

[3]. Takbir Dan Dzikir Pada Hari-Hari Tersebut.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala.

“Artinya : …. dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan …”. [Al-Hajj : 28].

Para ahli tafsir menafsirkannya dengan sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Karena itu, para ulama menganjurkan untuk memperbanyak dzikir pada hari-hari tersebut, berdasarkan hadits dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhuma.

“Artinya : Maka perbanyaklah pada hari-hari itu tahlil, takbir dan tahmid”. [Hadits Riwayat Ahmad].

Imam Bukhari Rahimahullah menuturkan bahwa Ibnu Umar dan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhuma keluar ke pasar pada sepuluh hari tersebut seraya mengumandangkan takbir lalu orang-orangpun mengikuti takbirnya. Dan Ishaq, Rahimahullah, meriwayatkan dari fuqaha’, tabiin bahwa pada hari-hari ini mengucapkan :

“Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaha Ilallah, wa-Allahu Akbar, Allahu Akbar wa Lillahil Hamdu”

“Artinya : Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Tidak ada Ilah (Sembahan) Yang Haq selain Allah. Dan Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, segala puji hanya bagi Allah”.

Dianjurkan untuk mengeraskan suara dalam bertakbir ketika berada di pasar, rumah, jalan, masjid dan lain-lainnya. Sebagaimana firman Allah.

“Artinya : Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu …”. [Al-Baqarah : 185].

Tidak dibolehkan mengumandangkan takbir bersama-sama, yaitu dengan berkumpul pada suatu majlis dan mengucapkannya dengan satu suara (koor). Hal ini tidak pernah dilakukan oleh para Salaf. Yang menurut sunnah adalah masing-masing orang bertakbir sendiri-sendiri. Ini berlaku pada semua dzikir dan do’a, kecuali karena tidak mengerti sehingga ia harus belajar dengan mengikuti orang lain.

Dan diperbolehkan berdzikir dengan yang mudah-mudah. Seperti : takbir, tasbih dan do’a-do’a lainnya yang disyariatkan.

[4]. Taubat Serta Meninggalkan Segala Maksiat Dan Dosa.

Sehingga akan mendapatkan ampunan dan rahmat. Maksiat adalah penyebab terjauhkan dan terusirnya hamba dari Allah, dan keta’atan adalah penyebab dekat dan cinta kasih Allah kepadanya.

Disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Sesungguhnya Allah itu cemburu, dan kecemburuan Allah itu manakala seorang hamba melakukan apa yang diharamkan Allah terhadapnya” [Hadits Muttafaq 'Alaihi].

[5]. Banyak Beramal Shalih.

Berupa ibadah sunat seperti : shalat, sedekah, jihad, membaca Al-Qur’an, amar ma’ruf nahi munkar dan lain sebagainya. Sebab amalan-amalan tersebut pada hari itu dilipat gandakan pahalanya. Bahkan amal ibadah yang tidak utama bila dilakukan pada hari itu akan menjadi lebih utama dan dicintai Allah daripada amal ibadah pada hari lainnya meskipun merupakan amal ibadah yang utama, sekalipun jihad yang merupakan amal ibadah yang amat utama, kecuali jihad orang yang tidak kembali dengan harta dan jiwanya.

[6]. Disyariatkan Pada Hari-Hari Itu Takbir Muthlaq

Yaitu pada setiap saat, siang ataupun malam sampai shalat Ied. Dan disyariatkan pula takbir muqayyad, yaitu yang dilakukan setiap selesai shalat fardhu yang dilaksanakan dengan berjama’ah ; bagi selain jama’ah haji dimulai dari sejak Fajar Hari Arafah dan bagi Jama’ah Haji dimulai sejak Dzhuhur hari raya Qurban terus berlangsung hingga shalat Ashar pada hari Tasyriq.

[7]. Berkurban Pada Hari Raya Qurban Dan Hari-hari Tasyriq.

Hal ini adalah sunnah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam, yakni ketika Allah Ta’ala menebus putranya dengan sembelihan yang agung. Diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Berkurban dengan menyembelih dua ekor domba jantan berwarna putih dan bertanduk. Beliau sendiri yang menyembelihnya dengan menyebut nama Allah dan bertakbir, serta meletakkan kaki beliau di sisi tubuh domba itu”. [Muttafaq 'Alaihi].

[8]. Dilarang Mencabut Atau Memotong Rambut Dan Kuku Bagi Orang Yang Hendak Berkurban.

Diriwayatkan oleh Muslim dan lainnya, dari Ummu Salamah Radhiyallhu ‘Anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Jika kamu melihat hilal bulan Dzul Hijjah dan salah seorang di antara kamu ingin berkurban, maka hendaklah ia menahan diri dari (memotong) rambut dan kukunya”.

Dalam riwayat lain :

“Maka janganlah ia mengambil sesuatu dari rambut atau kukunya sehingga ia berkurban”.

Hal ini, mungkin, untuk menyerupai orang yang menunaikan ibadah haji yang menuntun hewan kurbannya. Firman Allah.

“Artinya : ….. dan jangan kamu mencukur (rambut) kepalamu, sebelum kurban sampai di tempat penyembelihan…”. [Al-Baqarah : 196].

Larangan ini, menurut zhahirnya, hanya dikhususkan bagi orang yang berkurban saja, tidak termasuk istri dan anak-anaknya, kecuali jika masing-masing dari mereka berkurban. Dan diperbolehkan membasahi rambut serta menggosoknya, meskipun terdapat beberapa rambutnya yang rontok.

[9]. Melaksanakan Shalat Iedul Adha Dan Mendengarkan Khutbahnya.

Setiap muslim hendaknya memahami hikmah disyariatkannya hari raya ini. Hari ini adalah hari bersyukur dan beramal kebajikan. Maka janganlah dijadikan sebagai hari keangkuhan dan kesombongan ; janganlah dijadikan kesempatan bermaksiat dan bergelimang dalam kemungkaran seperti ; nyanyi-nyanyian, main judi, mabuk-mabukan dan sejenisnya. Hal mana akan menyebabkan terhapusnya amal kebajikan yang dilakukan selama sepuluh hari.

[10]. Selain Hal-Hal Yang Telah Disebutkan Diatas.

Hendaknya setiap muslim dan muslimah mengisi hari-hari ini dengan melakukan ketaatan, dzikir dan syukur kepada Allah, melaksanakan segala kewajiban dan menjauhi segala larangan ; memanfaatkan kesempatan ini dan berusaha memperoleh kemurahan Allah agar mendapat ridha-Nya.

Semoga Allah melimpahkan taufik-Nya dan menunjuki kita kepada jalan yang lurus. Dan shalawat serta salam semoga tetap tercurah kepada Nabi Muhammad, kepada keluarga dan para sahabatnya.

Oleh
Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Abdul Hamid Al-Halabi Al Atsari

Ada beberapa hukum yang berkaitan dengan hewan kurban. Sepantasnyalah bagi
seorang muslim untuk mengetahuinya agar ia berada di atas ilmu dalam
melakukan ibadahnya, dan di atas keterangan yang nyata dari urusannya.
Berikut ini aku sebutkan hukum-hukum tersebut secara ringkas.

PERTAMA
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkurban dengan dua ekor domba jantan
[1] yang disembelihnya setelah shalat Ied. Beliau shallallahu ‘alaihi wa
sallam mengabarkan.

“Artinya : Siapa yang menyembelih sebelum shalat maka tidaklah termasuk
kurban sedikitpun, akan tetapi hanyalah daging sembelihan biasa yang
diberikan untuk keluarganya” [2]

KEDUA
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada para sahabatnya
agar mereka menyembelih jadza’ dari domba, dan tsaniyya dari yang selain
domba [3]

Mujasyi bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengabarkan bahwa Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Sesungguhnya jadza’ dari domba memenuhi apa yang memenuhi
tsaniyya dari kambing” [4]

KETIGA
Boleh mengakhirkan penyembelihan pada hari kedua dan ketiga setelah Idul
Adha, karena hadits yang telah tsabit dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam : (bahwa) beliau bersabda :

“Artinya : Setiap hari Tasyriq ada sembelihan” [5]

Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah.

“Ini adalah madzhabnya Ahmad, Malik dan Abu Hanifah semoga Allah merahmati
mereka semua. Berkata Ahmad : Ini merupakan pendapatnya lebih dari satu
sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Al-Atsram menyebutkannya
dari Ibnu Umar dan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhum”[6]

KEEMPAT
Termasuk petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi orang yang ingin
menyembelih kurban agar tidak mengambil rambut dan kulitnya walau sedikit,
bila telah masuk hari pertama dari sepuluh hari yang awal bulan Dzulhijjah.
Telah pasti larangan yang demikian itu.[7]

Berkata An-Nawawi dalam “Syarhu Muslim” (13/138-39).

“Yang dimaksud dengan larangan mengambil kuku dan rambut adalah larangan
menghilangkan kuku dengan gunting kuku, atau memecahkannya, atau yang
selainnya. Dan larangan menghilangkan rambut dengan mencukur, memotong,
mencabut, membakar atau menghilangkannya dengan obat tertentu[8] atau
selainnya. Sama saja apakah itu rmabut ketiak, kumis, rambut kemaluan,
rambut kepala dan selainnya dari rambut-rambut yang berada di tubuhnya”.

Berkata Ibnu Qudamah dalam “Al-Mughni” (11/96).

“Kalau ia terlanjur mengerjakannya maka hendaklah mohon ampunan pada Allah
Ta’ala dan tidak ada tebusan karenanya berdasarkan ijma, sama saja apakah ia
melakukannya secara sengaja atau karena lupa”.

Aku katakan :
Penuturan dari beliau rahimahullah mengisyaratkan haramnya perbuatan itu dan
sama sekali dilarang (sekali kali tidak boleh melakukannya -ed) dan ini yang
tampak jelas pada asal larangan nabi.

KELIMA
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memilih hewan kurban yang sehat, tidak
cacat. Beliau melarang untuk berkurban dengan hewan yang terpotong
telinganya atau patah tanduknya[9]. Beliau memerintahkan untuk memperhatikan
kesehatan dan keutuhan (tidak cacat) hewan kurban, dan tidak boleh berkurban
dengan hewan yang cacat matanya, tidak pula dengan muqabalah, atau
mudabarah, dan tidak pula dengan syarqa’ ataupun kharqa’ semua itu telah
pasti larangannya. [10]

Boleh berkurban dengan domba jantan yang dikebiri karena ada riwayat dari
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dibawakan Abu Ya’la (1792) dan
Al-Baihaqi (9/268) dengan sanad yang dihasankan oleh Al-Haitsami dalam “
Majma’uz Zawaid” (4/22).

KEENAM
Belaiu shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembelih kurban di tanah lapang
tempat dilaksanakannya shalat. [11]

KETUJUH
Termasuk petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa satu kambing
mencukupi sebagai kurban dari seorang pria dan seluruh keluarganya walaupun
jumlah mereka banyak. Sebagaimana yang dikatakan oleh Atha’ bin Yasar [12] :
Aku bertanya kepada Abu Ayyub Al-Anshari : “Bagaimana hewan-hewan kurban
pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ?” Ia menjawab : “Jika
seorang pria berkurban dengan satu kambing darinya dan dari keluarganya,
maka hendaklah mereka memakannya dan memberi makan yang lain” [13]

KEDELAPAN
Disunnahkan bertakbir dan mengucapkan basmalah ketika menyembelih kurban,
karena ada riwayat dari Anas bahwa ia berkata :

“Artinya : Nabi berkurban dengan dua domba jantan yang berwarna putih campur
hitam dan bertanduk. beliau menyembelihnya dengan tangannya, dengan mengucap
basmalah dan bertakbir, dan beliau meletakkan satu kaki beliau di sisi-sisi
kedua domba tersebut” [14]

KESEMBEILAN
Hewan kurban yang afdhal (lebih utama) berupa domba jantan (gemuk) bertanduk
yang berwarna putih bercampur hitam di sekitar kedua matanya dan di
kaki-kakinya, karena demikian sifat hewan kurban yang disukai Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam. [15]

KESEPULUH
Disunnahkan seorang muslim untuk bersentuhan langsung dengan hewan kurbannya
(menyembelihnya sendiri) dan dibolehkan serta tidak ada dosa baginya untuk
mewakilkan pada orang lain dalam menyembelih hewan kurbannya. [16]

KESEBELAS
Disunnahkan bagi keluarga yang menyembelih kurban untuk ikut makan dari
hewan kurban tersebut dan menghadiahkannya serta bersedekah dengannya. Boleh
bagi mereka untuk menyimpan daging kurban tersebut, berdasarkan sabda Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Makanlah kalian, simpanlah dan bersedekahlah” [17]

KEDUA BELAS
Badanah (unta yang gemuk) dan sapi betina mencukupi sebagai kurban dari
tujuh orang. Imam Muslim telah meriwayatkan dalam “Shahihnya” (350) dari
Jabir radhiyallahu ‘anhu ia berkata.

“Artinya : Di Hudaibiyah kami menyembelih bersama Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam satu unta untuk tujuh orang dan satu sapi betina untuk tujuh
orang”.

KETIGA BELAS
Upah bagi tukang sembelih kurban atas pekerjaannya tidak diberikan dari
hewan kurban tersebut, karena ada riwayat dari Ali radhiyallahu ia berkata.

“Artinya : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan aku untuk
mengurus kurban-kurbannya, dan agar aku bersedekah dengan dagingnya, kulit
dan apa yang dikenakannya[18] dan aku tidak boleh memberi tukang sembelih
sedikitpun dari hewan kurban itu. Beliau bersabda : Kami akan memberikannya
dari sisi kami” [19]

KEEMPAT BELAS
Siapa di antara kaum muslimin yang tidak mampu untuk menyembelih kurban, ia
akan mendapat pahala orang-orang yang menyembelih dari umat Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam karena Nabi berkata ketika menyembelih salah satu domba.

“Artinya : Ya Allah ini dariku dan ini dari orang yang tidak menyembelih
dari kalangan umatku” [20]

KELIMA BELAS
Berkata Ibnu Qudamah dalam “Al-Mughni” (11/95) : “Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam dan Al-Khulafaur rasyidun sesudah beliau menyembelih kurban.
Seandainya mereka tahu sedekah itu lebih utama niscaya mereka menuju
padanya…. Dan karena mementingkan/mendahulukan sedekah atas kurban
mengantarkan kepada ditinggalkannya sunnah yang ditetapkan oleh Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

[Disalin dari kitab Ahkaamu Al-'iidaini Fii Al-Sunnah Al-Muthatharah, edisi
Indonesia Hari Raya Bersama Rasulullah oleh Syaikh Ali Hasan bin Ali Abdul
Hamid Al-Halabi Al-Atsari, terbitan Putsaka Al-Haura, hal. 47-53, penerjemah
Ummu Ishaq Zulfa Husein]
_________
Foote Note.
[1]. Akan datang dalilnya pada point ke delapan
[2]. Riwayat Bukhari (5560) dan Muslim (1961) dan Al-Bara’ bin azib.
[3]. Berkata Al-Hafidzh dalam “Fathul Bari” (10/5) : Jadza’ adalah gambaran
untuk usia tertentu dari hewan ternak, kalau dari domba adalah yang sempurna
berusia setahun, ini adalah ucapan jumhur. Adapula yang mengatakan : di
bawah satu tahun, kemudian diperselisihkan perkiraannya, maka ada yang
mengatakan 8 dan ada yang mengatakan 10 Tsaniyya dari unta adalah yang telah
sempurna berusia 5 tahun, sedang dari sapi dan kambing adalah yang telah
sempurna berusia 2 athun. Lihat “Zadul Ma’ad” (2/317).
[4]. ‘Shahihul Jami’” (1592), lihat ” Silsilah Al-Ahadits Adl-Dlaifah”
(1/87-95).
[5]. Dikeluarkan oleh Ahmad (4/8), Al-Baihaqi (5/295), Ibnu Hibban (3854)
dan Ibnu Adi dalam “Al-Kamil” (3/1118) dan pada sanadnya ada yang terputus.
Diriwayatkan pula oleh Ath-Thabari dalam ‘Mu’jamnya” dengan sanad yang
padanya ada kelemahan (layyin). Hadits ini memiliki pendukung yang
diriwayatkan Ibnu Adi dalam “Al-Kamil” dari Abi Said Al-Khudri dengan sanad
yang padanya ada kelemahan. Hadits ini hasan Insya Allah, lihat ‘Nishur
Rayah” (3/61).
[6]. Zadul Ma’ad (2/319)
[7]. Telah lewat takhrijnya pada halaman 66, lihat ‘Nailul Authar”
(5/200-203).
[8]. Campuran tertentu yang digunakan untuk menghilangkan rambut.
[9]. Sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad (1/83, 127,129 dan 150), Abu Daud
(2805), At-Tirmidzi (1504), An-Nasa’i (7/217) Ibnu Majah (3145) dan Al-Hakim
(4/224) dari Ali radhiyallahu ‘anhu dengan isnad yang hasan.
[10]. Muqabalah adalah hewan yang dipotong bagian depan telinganya.
Mudabarah : hewan yang dipotong bagian belakang telinganya. Syarqa : hewan
yang terbelah telinganya dan Kharqa : hewan yang sobek telinganya. Hadits
tentang hal ini isnadnya hasan diriwayatkan Ahmad (1/80 dan 108) Abu Daud
(2804), At-Tirmidzi (4198) An-Nasa’i (7/216) Ibnu Majah (3143) Ad-Darimi
(2/77) dan Al-Hakim (4/222) dari hadits Ali radhiyallahu ‘anhu.
[11]. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (5552) An-Nasai 97/213) dan Ibnu Majah
(3161) dari Ibnu Umar.
[12]. Wafat tahun (103H) biografisnya bisa dibaca dalam “Tahdzibut Tahdzib”
(7/217).
[13]. Diriwayatkan At-Tirmidzi (1505) Malik (2/37) Ibnu Majah (3147) dan
Al-Baihaqi (9/268) dan isnadnya hasan.
[14]. Diriwayatkan oleh Bukhari (5558), (5564), (5565), Muslim (1966) dan
Abu Daud (2794).
[15]. Sebagaimana dalam hadits Aisyah yang diriwayatkan Muslim (1967) dan
Abu Daud (2792).
[16]. Aku tidak mengetahui adanya perselisihan dalam permasalahan ini di
antara ulama, lihat point ke 13.
[17]. Diriwayatkan oleh Bukhari (5569), Muslim (1971) Abu Daud (2812) dan
selain mereka dari Aisyah radhiyallahu ‘anha. Adapun riwayat larangan untuk
menyimpan daging kurban masukh (dihapus), lihat ‘Fathul Bari’ (10/25-26) dan
“All’tibar” (120-122). Lihat Al-Mughni (11/108) oleh Ibnu Qudamah.
[18]. Dalam Al-Qamus yang dimaksud adalah apa yang dikenakan hewan
tunggangan untuk berlindung dengannya.
[19]. Diriwayatkan dengan lafadh ini oleh Muslim (317), Abu Daud (1769)
Ad-Darimi (2/73) Ibnu Majah (3099) Al-baihaqi (9/294) dan Ahmad
(1/79,123,132 dan 153) Bukhari meriwayatkannya (1716) tanpa lafadh : “Kami
akan memberinya dari sisi kami”.
[20]. Telah lewat takhrijnya pada halaman 70

Sumber http://www.almanhaj.or.id

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.